<$BlogRSDURL$>
 'Ke Arah Menjana Masyarakat Madani'
 'Ke Arah Menjana Masyarakat Madani'
Thursday, July 29, 2004
Golongan Manusia  
Oleh Habibah Jamilah

Golongan yang hidup di dunia ini diibaratkan sebagai orang yang belayar di lautan luas. Mereka menumpang sebuah kapal yang menuju ke daratan yang jauh. Setelah sekian lama di lautan, daratan masih jua tidak kelihatan. Maka pada suatu hari, kapal itu singgah di sebuah pulau. Maka orang yang turun itu terbahagi kepada 3 golongan.

Golongan Pertama:     
Mereka tahu dan sentiasa ingat bahawa mereka di dalam perjalanan. Setelah mereka melihat sebentar lalu mereka kembali ke kapal. Mereka ingat bahawa bukan pulau ini yang menjadi tujuan utama.

Golongan Kedua:     
Mereka terpengaruh oleh keindahan pulau. Pohon kelapa di pulau itu melambai-lambai ditiup angin, airnya jernih, ikannya jinak, mereka terpegun dan terlena tetapi kemudian mereka ingat bahawa mereka dalam perjalanan. Mereka kembali ke kapal, tetapi kerana terlambat tempat duduk mereka sudah diduduki oleh orang lain.

Golongan Ketiga:     
Inilah golongan yang malang. Setelah dibunyikan siren kapal yang pertama mereka masih leka dengan keindahan pulau dan tidak mempedulikan panggilan itu. Begitu juga apabila siren yang kedua dan ketiga dibunyikan, mereka masih tidak menghiraukannya. Kapal pun berangkat. Setelah kapal itu jauh barulah mereka terpanggil-panggil. Tetapi mereka sudah terlambat. Merekalah golongan yang malang dan rugi.

# oleh - acah | jam - 1:15 AM
Hikmah Diam 
Manusia berbicara setiap masa. Bicara yang baikakan membawa keselamatan dan kebaikan kepada manusia.Jika bicara tidak mengikut adabnya, manusia akanmerana di dunia dan di akhirat. Di dunia akan dibencioleh manusia lain manakala di akhirat bicara yangmenyakiti hati orang lain akan menyebabkan kitaterseksa kekal abadi di dalam neraka. Bagi mereka yangberiman, lidah yang dikurniakan oleh Allah itutidak digunakan untuk berbicara sesuka hati dansia-sia. Sebaliknya digunakan untuk mengeluarkanmutiara-mtiara yang berhikmah.Oleh itu, DIAM adalah benteng bagi lidah manusiadaripada mengucapkan perkataan yang sia-sia.

HIKMAH DIAM

1. Sebagai ibadah tanpa bersusah payah.
2. Perhiasan tanpa berhias.
3. Kehebatan tanpa kerajaan.
4. Benteng tanpa pagar.
5. Kekayan tanpa meminta maaf kepada orang.
6. Istirehat bagi kedua malaikat pencatat amal.
7. Menutupi segala aib.

Dua Hadis Rasullulah mengenai kelebihan diam yang bermaksud  :

"Barangsiapa yang banyak perkataannya, nescaya banyaklah silapnya. Barangsiapa yang banyak silapnya,nescaya banyaklah dosanya. Dan barangsiapa yang banyak dosanya, nescaya neraka lebih utama baginya".(Riwayat ABU NAIM)

 "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan HariAkhirat, maka hendaklah ia berkata yang baik ataudiam". (Riwayat BUKHARI & MUSLIM)

"Barangsiapa diam maka ia terlepas daribahaya".(Riwayat AT-TARMIZI)

Madah Dari Berdiam:
BANYAK DIAM TIDAK SEMESTINYA BODOH,
BANYAK CAKAP TIDAK SEMESTINYA CERDIK,
KERANA KECERDIKAN ITU BUAHFIKIRAN,
ORANG CERDIK YANG PENDIAM LEBIH BAIK
DARI ORANG BODOH YANG BANYAK CAKAP
MENASIHATI ORANG YANG BERSALAH,
TIDAK SALAH. YANG SALAH MEMIKIRKAN KESALAHAN ORANG
KALAU ORANG MENGHINA KITA, BUKAN KITA TERHINA,
YANG SEBENARNYA ORANG ITU MENGHINA DIRINYA SENDIRI.

Manusia tidak akan dapat mengalahkan syaitan kecualidengan diam. Jalan yang terbaik ialah diam kalau kita tidak dapat bercakap kearah perkara-perkara  yang baik. Bicara yang baik adalah lambang hati yang baik dan bersih yang bergantung kepada kekuatan iman pada diri manusia.


# oleh - acah | jam - 12:47 AM
Kalimah ALLAH Sembuhkan Pesakit 
 
Vander Hoven, a psychologist from Netherlands, announced his new discovery about the effect of reading the Quran and repeating the word ALLAH both on patients and on normal persons. The Dutch professor confirms his discovery with studies and research applied on many patients over a period of three years.

Some of his patients were non-Muslims, others do not speak Arabic and were trained to pronounce the word "ALLAH" clearly; the result was great, particularly on those who suffer from dejection and tension.
Al Watan, a Saudi daily reported that the psychologist was quoted to say that Muslims who can read Arabic and who read the Quran regularly could protect themselves from psychological diseases.

The psychologist explained how each letter in the word "ALLAH" affects healing of psychological diseases.
He pointed out in his research that pronouncing the first letter in the word "ALLAH" which is the letter (A), released from the respiratory system, controls breathing.

He added that pronouncing the velar consonant (L) in the Arabic way, with the tongue touching slightly the upper part of the jaw producing a short pause and then repeating the same pause constantly, relaxes the aspiration.
Also, pronouncing the last letter which is the letter makes a contact between the lungs and the heart and in turn this contact controls the heartbeat.

What is exciting in the study is that this psychologist is a non-Muslim, but interested in Islamic sciences and searching for the secrets of the Holy Quran.

Allah, The Great and Glorious, says, We will show them Our signs in the universe and in their own selves, until it becomes manifest to (remember me in ur Dua) ALLAHU AKBAR (Allah is great).

During the next 60 seconds, stop whatever you are doing, and take this opportunity.
(Literally it is only 1 minute) All you have to do is the following: You simply say "A prayer" for the person that sent you this message.

Next, you send this message to everyone you know.
In a while, more people will have prayed for you and you would have obtained a lot of people praying for others.
Next, stop and think and appreciate Allah's power in your life, for doing what you know is pleasing to him.
If you are not ashamed to do this, follow the instructions.
Allah said, "If you are ashamed of me, I will be ashamed of you."

If you are not ashamed, send this message...only if you believe. "Yes, I love Allah.
Allah is my fountain of Life and My Savior.
Allah keeps me going day and night. Without Allah, I am no one.
But with Allah, I can do everything. Allah is my strength."

This is a simple test. If you love Allah and you are not ashamed of all the great things that He has done for you, send this to everyone you know, May Allah help you to succeed... Ameen.

# oleh - acah | jam - 12:39 AM
Practice Da'wah 
Written By: A'nas Abd Al-Hamed Al Qos

1. You should give the new Muslim the feeling that Islam is a perfect religion, its source is divine, and it is totally inclusive. You have to emphasize that there is no truth but the truth of this religion.

2. You should clarify to the new Muslim that Islam erases every sin before it. Otherwise, he will keep thinking about his previous sins. You should make it clear for him that the moment he converted to Islam, his records became clean, and if he was Christian in the past, he will receive twice the reward from Allah.

3. Assure him that the only reference for Islam is quraan and sunnah, not the wrongdoings of Muslims. Only Qur’an and Sunnah can define what is right and what is wrong.

4. Advise the new Muslim to read Qur’an, Hadith and Serah as often as possible.

5. Advise him to take care of his personal cleanness in all its types, (Ablution, Ghusl…etc.)

6. He should perform prayers in time, and you should point out the importance of praying in Gama’ah.

7. It is very important that the new Muslim lives in an Islamic environment. This will help him to obey Allah, mainly by keeping him away from sins, and wrongdoings.

8. Take the new Muslim to a nearby mosque. It is better to have someone from the neighborhood accompanying him and following his progress.

9. Let the Imam of the mosque know about this new Muslim, and remind the Imam to take special care of him.

10. Advise him to read and learn more about Islam. It is better if he can dedicate some of his time to do that, whether by himself, or with a group.

11. It is very important for the new Muslim to ask about everything he doesn’t know or can’t understand. He should try to contact scholars or at least ask anyone he trusts.

12. Try to know about his financial status, and help him as much as possible to make him feel friendlier. It will be more encouraging to have his salary raised a little, if you are in a position to make that possible.

13. You should make it clear to him, that his conversion to Islam would cause him some problems. Allah is testing his faith by these problems. He can always handle these problems by referring to Qur’an and Sunnah.

14. You should emphasize the importance of Monotheism and Islamic belief basics. You can provide him with a book that explains these important things in a simple way.

15. Try to keep him away from his previous atmosphere, and to involve him in an environment that suits, and helps his development as a Muslim.

16. Try to engage him in some Islamic activities, and provide him with important books and recorded lectures.

17. Try introducing him to group from his nationality. The communication between them will be easier; he can also have lessons with them.

18. He should feel that he is important and loved by everyone, because of his conversion to Islam. Giving him a gift would be a good start…

19. Make it clear to him that the problems he faces have occurred to every new Muslim, so they are expected. Try to follow-up with his problems, and help him solving them, so that he can handle them without doing something terribly wrong.

20. There should be a simple approach that helps him to learn Arabic language (reading and writing), In order to be able to read quran by himself and understand it.

# oleh - acah | jam - 12:09 AM
Tuesday, July 27, 2004
Cabaran Membangunkan Umat Yang Cemerlang 
Oleh Mariam Binti Haji Abd Rahaman


Islam adalah agama pembangunan yang telah berjaya membangunkan satu umat yang berwibawa, berkarisma dan berkalibar. Tetapi kini masyarakat islam seolah-olah tidak bermaya mengharungi kehidupan yang kian mencabar. Jika diperhatikan cabaran umat islam itu sendiri jelas telah diperkatakan oleh Rasulullah S.A.W. melalui hadisnya yang bermaksud :

‘Seorang mukmin berada di celah 5 musuh yang menyusahkannya’ :
1. Mukmin yang dengki serta irihati kepadanya
2. Kafir yang sentiasa memeranginya
3. Munafik yang sentiasa membencinya
4. Syaitan yang sentiasa berusaha menyesatkannya
5. Nafsu yang sentiasa mendorongkannya melakukan maksiat..

Jika diperhalusi lagi secara terperinci, kita dapat lihat bahawa cabaran umat islam itu adalah :
1. Menguasai ilmu serta teknologi terkini. Kegagalan umat islam menguasai ilmu akan menyebabkan mereka ketinggalan jauh dari arus pembangunan perdana. Ini menyebabkan mereka menjadi umat yang mundur serta dipandang hina oleh orang lain….
2. Membina imej serta ketrampilan diri yang unggul. Imej umat Islam hari ini sudah tercalar berpunca dari tindakan segelintir umatnya yang bertindak secara emosional di luar batasan syarak sehingga Islam di kecam sebagai agama keganasan.
3. Memperbaiki kemorosotan akhlak dikalangan muda mudi yang semakin meruncing sehingga hilang identiti serta jati diri sebagai seorang Islam.
4. Membina kekuatan ummat dengan mementingkan perpaduan di samping menghindarkan segala unsur-unsur yang boleh memecahbelahkan mereka kerana Allah telah mengingatkan mereka bahawa perpecahan akan menyebabkan mereka gagal dan hilang kekuatan….
5. Membangunkan kekuatan ekonomi , kerana masa depan sesuatu umat akan gelap seandainya ekonomi mereka lemah. Mereka akan menjadi mangsa kepada penyangak-penyangak ekonomi yang akan meruntuhkan Negara mereka sehingga menjadi miskin. Akhirnya terpaksa melutut kepada mereka memohon bantuan dan pinjaman sehingga membebankan mereka untuk membayar balik….

Setelah kita mengetahui cabaran-cabaran tersebut, apakah aspek pembangunan yang perlu kita bangunkan bagi umat islam itu sendiri bagi melahirkan umat yang cemerlang….Ada 6 aspek penting yang diberikan perhatian oleh Rasulullah dalam membangunkan ummah iaitu :
1. Aspek Jasmani (Fizikal)
2. Aspek Aqli (Mental)
3. Aspek Rohani (Spiritual)
4. Aspek Akhlaqi (Moral)
5. Aspek Ijtimaa’I (Sosial)
6. Aspek Jihaadi (Daya Juang)

Jika kita sebagai umat islam mementingkan keenam-enam pembangunan ini maka akan lahirlah umat islam yang gemilang.

Sorotan dari itu seorang pujangga pernah berkata :
“Gelap ada 5 macam iaitu gelap hari kerana malam, gelap mata kerana buta, gelap otak kerana tak berilmu, gelap hati kerana tak ada iman, gelap masa depan kerana lemah ekonomi…”

Membangun umat islam yang cemerlang adalah menjadi tugas dan tanggungjawab semua orang bermula dari individu, keluarga dan masyarakat. Salah satu pendekatan yang boleh kita gunakan adalah pengwujudan Rakan Masjid yang dapat membantu membangunkan umat islam. Jelasnya insan yang hendak dibangunkan itu harus memiliki sifat-sifat badan sihat, ilmu padat, iman kuat, amalan hebat, dan akhlak memikat. Jika semua ini terpahat, maka hidupnya pasti berkat , dirinya pasti selamat, keluarganya sepakat, masyarakatnya muafakat , hubungan sesama mereka menjdi erat, permusuhan tersekat…Maka pembangunan pun berkembang pesat, kemajuan terus meningkat sehingga Negara Luar kagum dan hormat. Ketika itu tercapailah segala hasrat dan matlamat…… Wallahuallam

Adaptasi penulisan Sheikh Ismail Haji Hashim yang bertajuk PERANAN MASJID DALAM MELAHIRKAN UMAT CEMERLANG








# oleh - acah | jam - 2:20 AM
Monday, July 12, 2004
Nikmat Yang Didustakan 
Oleh Kak Wahyu

Ia dikaitkan dengan kebebasan dan kemudahan untuk bergerak. Membawa empunya diri ke mana dan sejauh mana yang termampu olehnya. Destinasinya mengikut keinginan hati, menurut apa yang terdetik di sanubari. Jika dipandu dengan nafsu terarahlah ia ke tempat maksiat. Ditimbang dengan ilmu dengan akal melangkahlah ia ke taman ibadat. Iltulah KAKI, menjadi tiang pengampu badan. Nikmat besar anugerah Tuhan.

Tanpanya, terasa sempit sungguh dunia.."Ah, alangkah bagusnya kalau aku ada kaki..bebas ke sana ke sini..ah, kalaulah..."

Begitu kata hati orang yang kecewa dan kesal dengan ketentuan Pencatur Alam. Namun begitu, tidak dinafikan ada segelintir yang berjiwa besar. Redha dengan apa yang dianugerahi-Nya. kerana baginya di sebalik setiap kejadian terselit hikmah yang hanya Allah mengetahui.

Malanglah bagi mereka yang sempurna anggota badan sekiranya tidak pernah menyoal diri. "Bagaimana kalau aku tidak mempunyai kaki..?" Lalu dibawa kaki berjalan menurut kehendak hati. Maka beradalah ia di tempat-tempat yang sarat dengan maksiat. di situ bermaharajalelanya kemaksiatan yang menjamin kemurkaan Allah.

Bawalah kaki itu ke masjid-masjid, seretlah ia untuk bersila di majlis agama. Berziarahlah ke rumah sahabat-sahabat agar terjalin ukhwah Islamiyyah.Kunjungi tempat sepi di mana bersemadinya mereka yang telah pergi meninggalkan kesibukan dunia. Bawalah diri bertamu ke rumah anak-anak kecil yang ditinggalkan . Bekalkan sekelumit kasih-sayang untuk mereka. semoga dengan rahmat Allah, lahir rasa keinsafan dan ketenangan.

Pergilah ke mana sahaja dan carilah iktibar bagi diri yang sering lalai dan lupa untuk bersyukur ke atas anugerah Tuhan. Kerana di akhirat nanti akan ditanya, "Ke mana kau bawa kakimu pada hari sekian..se..?"

Dan jangan kesal, usah terkejut jika tiba-tiba mulutmu bisu, lidahmu dipateri kaku! Lalu kakimu menjadi saksi! berkata-kata dengan fasih mengenai apa sahaja perlakuan diri...

Maka kasihi dan hargai ia kerana ia adalah sebahagian dari dirimu.

ITU ADALAH SEBAHAGIAN DARIPADA NIKMAT YANG DIANUGERAHKAN ALLAH KEPADA KITA. BAGAIMANA DENGAN NIKMAT YANG LAIN? TEPUK DADA ,TANYA IMAN...


# oleh - acah | jam - 6:56 PM
Mendapat Kekuatan Jiwa 
Oleh Mariam Abdul Rahaman

Kekuatan jiwa boleh diperolehi dengan berusaha meningkatkan iman.Untuk mendapatkan iman, antaranya kita perlu....

1. Bertafakur- memikirkan tentang kejadian alam dan
merasai kebesaran Allah.

2. Memikirkan neraka yang penuh azab.

3. Mujahadatunnafsi (melawan hawa nafsu) nafsu yang
sentiasa mengajak kepada kejahatan dididik dan dilatih
supaya jinak dan baik.

4. Membaca sejarah orang soleh tentang kehidupan
mereka dan mengambil iktibar daripadanya.

# oleh - acah | jam - 6:47 PM
Saturday, July 10, 2004
Pengorbanan Dalam Berdakwah 
Oleh Khairul Anwar

Segala puji hanya bagi Allah s.w.t. Tuhan Alam Raya. Selawat dan
salam ke atas Nabi Muhammad s.a.w. junjungan mulia, nur rahmatan lil
a'lamin. Salam perjuangan buat pendokong-pendokong gerakan tercinta
ini.

Pengorbanan merupakan satu elemen yang amat penting dalam kita
melayari bahtera dakwah kita ini. Pengorbanan merupakan salah satu
definisi jihad yang diterapkan di dalam salah satu budaya 7 PKPIM
yang perlu dihadam dan diimplemen oleh setiap ahlinya. Namun apa yang
berlaku pada cabang gerakan PKPIM di bumi matrik ini, salah faham
terhadap pengertian hakiki pengorbanan menjadikan kita jahil dalam
berkorbanataupun sememangnya tidak mahu berkorban dalam misi
perjuangan kita ini. Ini semua berlaku kerana erti pengorbanan tidak
disandarkan kepada fiqh al-awlawiyyat (fiqh keutamaan).

Seharusnya pokok pangkal pengorbanan bersandarkan kepada fiqh
keutamaan. Setiap seorang dari ahli PKPIM di bumi matrik ini juga
belajar, tidur, makan, kewangan yang terhad dan punyai kehidupan
peribadi masing-masing yang tentunya tidak lari dari tabi'i seorang
pelajar. Yang peliknya masih wujud golongan yang menjadikan alasan-
alasan ini untuk lari daripada berkorban di dalam gerakan kita ini.
Ada juga di antara kita yang sanggup menghabiskan masa, tenaga dan
wang ringgit demi kepentingan peribadi. Golongan inilah yang
dibahasakan sebagai golongan materialistik. Mereka cukup sukar untuk
berkorban demi Islam walaupun mengakui dirinya adalah seorang Islam
Cukup pelik apabila difikirkan. Tetapi inilah hakikatnya. Kerana di
dalam hati kita ini masih lagi ditanam dengan sifat keduniaan lantas
mengenepikan keperluan akhirat. Kita perlu mengelakkan diri dari
menjadi golongan yang sanggup memperlekeh dan menggunakan agama demi
kepentingan peribadi. Seharusnya kita perlu sentiasa bermuhasabah dan
yakin pada janji Tuhan kepada pendokong-pendokong agama-Nya.

Yang membezakan setiap dari kita di sisi Allah hanyalah taqwa. Maka
kita tidak punya hak untuk membezakan diri kita dengan yang lain
samada dari aspek pangkat dan jawatan di dalam gerakan ini, tahap
keilmuan dan kepimpinan ataupun dari aspek usia mahpun pengalaman.
Setiap seorang dari ahli gerakan kita ini, punyai hak untuk bersuara
samada untuk mengutarakan idea-idea, menegur dan bergerak yang juga
perlu bersandarkan kepada adab dan keutamaan di dalam gerakan. Jadi,
setiap seorang dari ahli gerakan ini perlu mengorbankan ego diri
dalam usaha untuk memecahkan benteng-benteng perbezaan di antara
kita. Setiap ahli gerakan kita ini juga perlulah menyerlahkan segala
kemampuan yang ada bekerjasama dan berganding bahu dalam merangka
strategi perjuangan kita. Janganlah hanya bersikap memendam diri
ataupun duduk, tunggu dan lihat.

Sebagai ahli gerakan PKPIM, kita perlu faham. Inilah gerakan kita dan
inilah pengkalan kita. Maka ini menjadikan selain dari PKPIM yang
kita anggotai hanyalah lapangan iatu tempat kita bergerak dalam
melancarkan misi dakwah kita. Kita cukup sedih apabila ahli-ahli kita
yang memegang jawatan-jawatan tertentu di bumi matrik ini kurang
bijak dalam memanfaatkan kelebihan yang ada. Lagi menyedihkan apabila
ada juga di antara ahli kita yang menjadi duri dalam daging,
mengkhianati gerakan kita ini. Kita sedar dan faham bahawa wujudnya
jemaah-jemaah lain yang turut sama memperjuangkan kedaulatan Islam di
muka bumi Allah ini dan kita tidak pernah menidakkan hak mereka jauh
sekali untuk menafikan kewujudan mereka selagi tidak keluar dari
landasan Islam yang sebenar. Tetapi, sekarang kita perhatikan, kita
sebenarnya di dalam jemaah yang mana? Adanya kita dalam PKPIM ini
maka mewajibkan setiap ahlinya untuk taat setia kepada PKPIM kerana
inilah keutamaan kita.

Akhirnya, misi dan visi kewujudan kita di muka bumi Allah ini perlu
diteruskan sehinggalah ke penghujung usia dunia. Peranan kekhalifan
dan kehambaan kita perlulah dimainkan dengan sewajarnya dalam
mencapai keredhaan Allah. Betulkanlah niat kita di dalam
memperjuangkan Islam melalui gerakan PKPIM yang tercinta ini.
Sedarlah, walaupun PKPIM mati, tetapi perjuangan Islam ini pasti
berterusan dulu, kini dan selamanya. Apa yang benar adalah dari Allah
dan segala kekurangan adalah kerana kelemahan diri yang hina ini.
Kerana hakikatnya semua adalah dari Allah.

Iman tetapkan di dada,
Islam pastikan dipuja,
Hidup Biar Berjasa,
Mati Biar diRedha.

# oleh - acah | jam - 7:50 AM
Wednesday, July 07, 2004
Nilai Darjat Manusia 
Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah tuhan yang mentadbir alam semesta, mencipta setiap kejadian dan berkuasa menentukan sesuatu. Sesungguhnya manusia adalah sebaik-baik kejadian sebagaimana yang digambarkan oleh Allah di dalam firmannya

Sesungguhnya telah Aku ciptakan manusia itu sebaik-baik kejadian. (al-Tin : 4)

Begitulah fitrah asal kedudukan manusia yang telah Allah kurniakan satu kedudukan yang cukup tinggi di kalangan makhluk ciptaan-Nya. Begitulah jua perumpamaan yang diletakkan pada anak yang baru dilahirkan. Dia adalah sesuci murni kain putih yang sedia dicorak oleh kedua ibu bapa. Namun atas kelemahan dan kenaifan manusia itu sendiri, kadang kala mereka gagal untuk mencorak anak-anak mengikut acuan dan adunan yang telah ditinggalkan oleh junjungan besar Muhammad SAW. Ia amat bertepatan dengan hadith yang diriwayatkan oleh Al-bukhari dan Muslim daripada Abu Hurairah:
"Anak-anak dilahirkan secara fitrah (suci), ibu bapalah yang mewarnainya samada Yahudi , Nasrani atau Majusi."

Lantas lahirlah generasi yang buta agama dan miskin akal budi Islam.Bak kata pepatah melayu, 'Harapkan pagar, pagar makan padi'. Sepatutnya generasi umat akhir zaman yang telah dianugerahi gelaran sebaik-baik umat, dijanjikan dengan syafaat Nabi dan yang terdahulu menjejaki syurga Allah sebelum umat para anbiya' terawal, kita sepatutnya menjadi pendokong kepada tertegaknya Islam di muka bumi ini. Malangnya kita yang mengaku Islam, mengucap kalimah iman dan kalimah amal, rupanya indah khabar dari rupa. Buah yang dilihat sempurna tiada cacat, rosak isinya dirobek ulat.

Kalau kita sorot kembali sirah yang tersurat di dalam al-Quran, Allah Ta'ala telah menggambarkan kerosakkan yang bakal dilakukan oleh manusia apabila kemahuan penciptaan manusia itu diprotes oleh para malaikat. Firman Allah :

Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakkan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?". Tuhan berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". ( al-Baqarah : 30)

Timbul persoalan apakah Allah tidak tahu bahawa manusia akan melakukan kerosakkan di muka bumi ini? Sudah tentu para Malaikat tidak akan timbulkan persoalan ini sekiranya natijah kejadian manusia itu telah diketahui. Seolah-olah kita mengarahkan seorang yang yang cacat ke medan peperangan, sudah pastinya seolah-olah menyerahkan nyawa secara percuma kepada musuh. Tetapi kalau diajarkan kepada orang cacat tadi tentang segala ilmu mempertahankan diri dan muslihat peperangan, maka, akhirnya dia akan disanjung sebagai seorang pejuang yang handal. Begitulah halnya dengan manusia. Allah itu Maha Mengetahui mengatasi pengetahuan sekelian makhluk-Nya. Sebelum dicampaknya Nabi Allah Adam dan Siti Hawa ke dunia, Allah telah mengajarkan Adam dengan pelbagai ilmu yang akhirnya itulah yang telah menaikkan darjat manusia itu semulia-mulia kejadian sekelian makhluk-Nya.

Lantas diperintahkan oleh Allah kepada sekelian Malaikat yang ada untuk sujud tanda kemulian dan kehormatan yang telah dikurniakan pada manusia, bukan sebagai hamba kerana sujud sebagai hamba hanya mutlak kepada Allah. Kecuali Iblis, semuanya sujud patuh kepada perintah Allah lantaran sifat enggan dan takbur pada diri kerana asal kejadiannya yang jauh lebih mulia daripada manusia. Ingatlah, cubalah kita jauhi daripada sifat enggan atau degil pada perintah Allah dan takbur (bangga dan sombong) dengan kemuliaan atau kelebihan yang ada pada diri kerana sifat ini adalah kepunyaan syaitan, bukan manusia!

Begitulah asal kejadian manusia yang pada fitrahnya semulia-mulia hamba di sisi Allah. Tetapi atas kelemahan dan kelalaian manusia itu, maka Allah telah memberi pengajaran supaya manusia senantiasa waspada dengan ancaman syaitan yang tidak putus asa menyesatkan umat manusia. Firman Allah :

Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isteri kamu syurga ini, dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana sahaja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari syurga itu, dan dikeluarkan dari keadaan nikmat syurga dan kami berfirman :"Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan"(al-Baqarah :35-36)

Firman Allah lagi :

"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendah manusia." (al-Tin : 5)

Begitulah rentetan kisah awal penciptaan manusia yang penuh dengan hikmah dan pengajaran sebagai tauladan umat manusia. Namun, seringkali manusia itu lupa dan lalai lantaran terlalu asyik dan leka mengecapi nikmat yang bersifat sementara. Barangkali mereka lupa bahawa ianya kurniaan Allah Yang Esa. Jangan kita lupa, bahawa Allah menguji manusia bukan sahaja di dalam keadaan kesusahan, bahkan juga di dalam kesenangan. Dan kebiaasaannya manusia mudah tertewas apabila berada di dalam keadaan senang. Qarun adalah contoh terbaik sebagai tauladan. Seorang sahabat terkenal Abdul Rahman bin 'Auf r.a, sahabat rapat Rasulullah SAW dan jutawan arab yang memiliki kekayaan hasil perdagangannya, pada suatu ketika pernah diuji oleh Allah. Satu ketika beliau diperkhabarkan oleh seorang lelaki bahawa kapal dagangannya yang sarat dengan muatan telah terbakar. Dengan tenang beliau berkata "Alhamdulillah!". Tidak lama selepas itu, lelaki tadi bertemu semula Abdul Rahman bin 'Auf menyatakan bahawa kapal yang terbakar itu bukanlah miliknya. Dengan tenang beliau berkata, "Alhamdulillah!". Maka hairanlah lelaki tadi mengapa beliau bertahmid "Alhamdulillah" walaupun berada di dalam dua kondisi yang berbeda. Maka jawab Abdul Rahman bin 'Auf, "Aku bersyukur kepada Allah kerana samada kapalku terbakar mahupun tidak, imanku tidak kurang walaupun sedikit."

Dalam kisah yang lain, Nabi junjungan besar Muhammad SAW amat terlalu sedih ketikanya isteri tercinta di ambang maut. Ditanya oleh Siti Khadijah mengapa baginda terlalu sedih. Lantas baginda menjawab baginda amat sedih kerana daripada seorang wanita hartawan, kini hanya tinggal sehelai sepinggang kerana harta habis diinfakkan pada jalan Allah. Walaupun menyedari keadaannya yang begitu naif, Siti Khadijah sempat berwasiat kepada Nabi SAW sebelum menghembuskan nafas pemisah jasad dan nyawa, sekiranya pada ketika itu umat Islam berperang dan memerlukan jambatan untuk menyemberangi parit atau sungai, maka gunakanlah tulang belulangnya sebagai jambatan agar umat Islam dapat menyemberangi sungai itu.

Begitu tingginya nilai mujahadah para sahabat sehingga meletakkan segala-galanya hanya pada Allah. Segala apa yang ada diinfakkan untuk kemudahan dan keperluan menegakkan kalimah Allah di muka bumi ini. Segala kemewahan yang ada dijadikan sebagai bahan-bahan membina jambatan ke syurga.



# oleh - acah | jam - 7:11 AM

Powered by Blogger

:: CIT CAT FM ::

:: UNDIAN ::

:: TAHUKAH ANDA? ::

:: ARKIB ::
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • July 2005
  • December 2005
  • June 2006
  • :: SENTUHAN KALAM ::
    "Tanggungjawab itu lebih banyak daripada masa yang ada"
    Hasan al-Banna

    :: SANTAPAN ::
    Utama
    PC Editor
    Fikrah
    Kampus
    Isu Semasa
    Bicara Tokoh
    Kupasan Buku
    Ekonomi
    Bahasa
    Rileks
    Infomasi
    Catatan Usrah
    Slot Motivasi
    Kertas Kerja
    Koleksi Resolusi
    Muhasabah Jiwa
    Lembaran Sirah
    HEWI
    Personaliti
    Doa Amalan
    Sains & Teknologi

    :: INPUT PEMBACA ::
    Fikrah Madani mengalu-alukan sebarang sumbangan karya atau komen daripada pembaca bagi mutu penerbitan kami. Segala karya yang tersiar menjadi hak milik penerbit.

    Hantar ke alamat:
    fikrahmadani@yahoo.com

    Editor Fikrah Madani
    Masjid Sultan Ismail,
    Universiti Teknologi Malaysia,
    81310 Skudai,
    Johor Darul Ta'zim.
    Sila sertakan nama penuh, alamat, nombor telefon dan jika masih menuntut, nyatakan institusinya.

    :: REDAKSI ::
    Penasihat
    Qandar
    Ketua Editor
    Pak An
    Editor
    Qadahus Nawzi
    Wartawan
    Rasa Oren
    Al-Ayubi
    Wanni
    Teeh
    Izahtul
    Penulis
    Qiadiy Legend
    Escore
    Suhadak
    Ibn Husin
    Pereka Kreatif
    Cireng
    Ajin
    acahmakenon